Mini Hollywood Indonesia Ada di Gamplong Studio Alam Jogja

Siapa bilang Jogja nggak punya studio alam yang bisa buat foto instagramable? Ada dong! Namanya Gamplong Studio Alam. Lokasi syuting-nya Mas Hanung Bramantyo ini jadi primadona wisata Jogja lho. Nggak percaya? Buktikan!

Selamat datang di Jogja! Cari tempat wisata yang anti-mainstream? Sekarang ada lokasi baru lho di Jogja, yang nggak kalah keren dari Malioboro. Namanya Gamplong Studio Alam, Jogja. Di sini dijamin kita bisa foto-foto sepuasnya dan banyak hal yang seru bisa di-explore.

Lokasi Gamplong Studio Alam Dimana Sih?

Walopun tempatnya bukan di pusat kota Jogja, seperti Keraton atau Taman Sari, lokasi Gamplong Studio Alam ini nggak jauh-jauh amat kok dari Tugu Jogja. Tinggal lurus aja ke arah Godean, trus belok kiri arah Moyudan. Nyampe deh di Dusun Gamplong.

Ketika aku sampai lokasi, kebetulan itu siang hari yang sangat terik. Awannya lagi biru-birunya, dan matahari lagi mentereng-menterengnya juga. Hahaha. Peluh mulai bercucuran, tapi nggak menyurutkan semangatku untuk mengelilingi tempat yang luasnya 2,5 hektar. Hmm, kapan ya bisa punya tanah seluas ini? Semoga one day. Aamiin!

Tiket Masuk Bayar Suka-Suka Lho!

Nah, serunya lagi. Di sini nggak dipungut biaya tiket masuk alias kamu bisa bayar suka-suka (cuman yang manusiawi ya). Ingat, untuk memelihara butuh biaya maintenance yang nggak murah. So, kita harus bantu dengan menyumbangkan sebagian uang jajan kita ya. Biasanya mulai dari Rp 5.000 ke atas. Trus biaya parkiranya sekitar Rp 3.000-an.

Kalo dari pintu masuk sebaiknya kamu ambil pintu sebelah kanan ya, daripada arah lurus yang melewati jembatan. Karena paling asyik explore tempat dulu sampai lelah dan puas. Betul kan!

Wow, Ternyata Lokasi Syuting Film-nya Mas Hanung Bramantyo!

Aku juga baru tau, ternyata asal muasal dari berdirinya Gamplong Studio Alam ini adalah lokasi syuting film-film jaman dulu atau kolosal dari Mas Hanung Bramantyo. Setelah selesai film ini, akhirnya dihibahkan ke masyarakat sekitar untuk dikelola sehingga menjadi desa wisata dan menambah pundi-pundi penghasilan mereka. Sungguh mulia sekali ya!

Lalu tempat syutingnya apa aja di sini? Banyak! Mulai dari film Sultan Agung, Ainun Habibie, sampai Bumi Manusia yang dibintangi sama Iqbal “Dilan”. Jadi penasaran diriku ingin menonton film yang terakhir ini.

Banyak Spot Instagramable di Gamplong Studio Alam

Pertama, aku menemukan spot pemukiman kumuh. Keren-nya adalah setingan lokasi bener-bener mirip. Bahkan aku bisa merasakan atmosfernya. Mulai dari gubuh yang cuman berlapis seng, pintu yang tirainya dari karung beras. Tempat duduk karatan dan lainnya.

Pemukiman kumuh ini juga lengkap dengan sungai butek alias isinya macem-macem selain sampah juga warna airnya yang hijau kekuning-kuningan. Lengkap dengan jamban pinggir sungai.

Ini adalah spot paling favoritku buat nge-vlog. Karena di sini aku jadi tau ternyata begini ya hidup di pemukiman kumuh. Benar-benar keraaad, guys! So, pastinya kita harus banyak-banyak bersyukur supaya ditambah nikmatinya oleh Allah. Setuju?

Melewati Lorong Mesin Waktu ke Kota Tempo Dulu

Setelah itu, aku menemukan spot nggak kalan bagus. Bahkan berasa seperti melewati lorong waktu, lho! Setelah keluar dari pemukiman kumuh, aku menemukan suasana seperti di jaman Mataram. Kedai-kedai jaman dulu banget yang masih pake kendi dari tanah liat. Bener-bener berasa lagi syuting film kolosal. Hehehe.

Bahkan aku dimanjakan oleh bangunan-bangunan yang nggak pernah aku bayangkan bisa dalam satu area. Inilah yang menjadi keunikan dari Gamplong Studio Alam. Mulai dari penginapan jaman dulu, lalu ada toko kue, ada toko minuman dengan sirup rasa jadul alias jaman dulu banget.

Biar kalian nggak penasaran, wajib menyimak video terbaru-ku di sini. Karena aku mengulas detil tiap sudutnya.

Gimana sudah nonton kan? Jangan lupa ya di-subscribe dulu. Karena subscribe GRATIS alias nggak bayar. Malah kamu bisa berkontribusi untuk anak bangsa satu ini membuat konten yang menarik. Hohoho.

Makin ke sini makin seru lagi lokasinya. Bahkan ada Toko Soerabaia (ejaan lama) dan kampung pecinan. Selain itu ada lokomotif yang saat itu nggak jalan. Biasanya beroperasi, sehingga pengunjung bisa muterin lokasi ini.

Pulangnya Isi Perut di Warung Gamplong Studio Alam

Setelah puas muterin tempat ini, bikin vlog sambil foto-foto, waktunya makan siang (iya, makan siangnya ngaret nih jadi makan sore). Lumayan bikin perut keroncongan. Lalu aku memasuki lokasi perumahan pedesaan. Iya mirip rumah nenek gitu. Bahkan ada tumbukan padi dan jagung. Komplit deh!

Di sini, aku memesan nasi sayur lodeh, tempe, dan ikan. Tak lupa segelas es jeruk segar dengan bulir-bulirnya yang menyehatkan. Endes! Menu makanannya bervariatif dan nggak bikin bosen.

Banyak hal yang bisa kamu lakukan di Gamplong Studio Alam, Jogja. Karena kamu bisa bernostalgia dengan kehidupan di tempo dulu, bahkan bisa nyobain makanan pedesaan.

Buat kalian yang lagi liburan ke jogja, wisata budaya yang satu ini bisa jadi pilihan seru mengisi liburanmu. Nggak bakal nyesel deh! Selain tiket masuknya murah meriah, kamu bisa nambah tuh koleksi foto instagram. Hohoho. Selamat liburan!

Salam Ceria,

Indahnya Perbukitan di atas Candi Borobudur

Liburan ke Magelang nggak komplit kalo belum ke Candi Borobudur. Candi Budha yang menjulang tinggi dan merupakan salah satu keajaiban dunia. Lokasinya strategis dan tak jauh dari kota Jogja. Seperti apa kini penampakan Candi Borobudur?

Candi Borobudur merupakan Candi Budha yang masuk dalam jajaran keajaiban dunia dan kita perlu lestarikan sebagai warisan budaya. Letaknya di kecamatan Borobudur, kabupaten Magelang. Kalo dari pusat kota Jogja nggak terlalu jauh karena Borobudur terletak diperbatasan Jogja dan Magelang. So, nggak ada alasan buat nggak mampir ke sini.

Liburan kali ini spesial, karena dari dulu pengin banget bisa mampir ke Candi Borobudur. Karena terakhir ke sini waktu kecil, mungkin saat SD. Trus belum pernah ke sini-sini lagi sampai akhirnya bisa menginjak kaki setelah dewasa (ceileh).

Biasanya liburan kalo tujuannya ke candi nggak bakal dapet momen bagus atau hasil foto atau vlog yang sesuai. Mulai dari lupa bawa baterai kamera atau lupa bawa memory card. Tapi di sini, aku benar-benar menikmati setiap momen. Bisa jadi karena nggak terlalu ramai dan cuaca yang cerah.

Nggak hanya bisa menikmati indahnya pemandangan yang disuguhkan oleh Candi Borobudur. Tapi kita juga bisa belajar sejarah tipis-tipis deh di sini. Karena setiap sudut banyak terukir relief yang bisa kita baca ceritanya.

Jadi relief-nya ini kalo ditelisik merupakan cerita tentang kehidupan zaman dinasti Syailendra yang menganut agama Budha. Dan usia bebatuan yang disusun berundak ini sekitar 100 tahun. Wow!

Konon katanya, Candi Borobudur ini punya 3 falsafah, yaitu Kamadhatu (keinginan), Rupadhatu (dunia berbentuk), dan Arupadhatu (dunia tak berbentuk).

Lanjutlah aku menuju bagian teratas. Iya, melewati setiap anak tangga ternyata emang bikin ngos-ngosan. Nah, kebetulan aku beli tiket masuk Candi Borobudur ini lewat Traveloka dan lagi promo. Jadi nggak perlu ngantri deh. Dari harganya emang beda dengan candi-candi lainnya ya, agak sedikit mahal, tetapi sesuai-lah dengan fasilitas yang ditawarkan dan kebersihannya.

Eits jangan lupa selalu bawa air mineral dan topi ya biar nggak kepanasan. Karena cukup menyengat panasnya kalo udah mengelilingi komplek candi-nya. Nah, sekarang kita lanjut lagi melihat stupa ciri khas Candi Borobudur. Siap-siap yaaaaa!

Kebetulan aku ke sini nggak terlalu ramai. Jadi seru banget bisa foto-foto sepuasnya dan buat vlog juga lebih menarik. Udah nonton vlog aku edisi Candi Borobudur, belum? Nah, sekarang nonton dulu ya sebelum lanjut ke cerita selanjutnya.

Sebenernya paling seru kalo ke sini lihat Sunrise, tapi harus reserve dulu dan harganya lumayan mahal. Mungkin buat turis lokal dan asing worth-it lah ya. Kalo aku mah bisa ke sini kapan aja, asal ada waktu lebih banyak explore-nya. Walaupun ke sini siang-siang terik, tetap senang kok, karena siang bisa ngelihat pemandangan bukit yang berjejer rapi mengelilingi Candi Borobudur.

Ketika aku sudah sampai ke puncak tertinggi, ada sekitar 72 stupa yang isinya patung Budha yang bisa kita intip dari celah-celah stupanya. Tetapi di sini ada stupa yang terbuka, jadi kita nggak bakal penasaran.

Nama Borobudur sendiri juga punya arti, lho. Boro artinya kuil atau candi. Sedangkan Budur artinya bukit. Jadi kalo diartikan candi di atas bukit. Benar saja, disisi tertentu, kita akan melihat perbukitan yang terhampr luas. Duduk dipinggir stupa sampil menikmati angin semilir dan hijaunya perbuktian. Syahdu.

Menikmati Candi dari ketinggian dengan keindahan yang tak terlukiskan dengan kata-kata? Candi Borobudur jawabannya. Saatnya pilih waktu terbaikmu untuk liburan ke Magelang dan nikmati sunrise atau sunset di sini. Selamat berlibur!

Salam Ceria,

Susur Sungai Maron, Amazon-nya Pacitan

Nggak perlu jauh-jauh ke Sungai Amazon, melipir ke Pacitan kamu bisa menemukan Sungai Maron yang capek banget! Susur Sungai Maron cocok banget ketika musim kemarau atau cerah. Karena pemandangan indah bisa kamu dapat di sini. Seperti apa?

Sungai Maron Ada Dimana?

Pacitan, jawabannya! Lokasinya ada di Desa Darsono, Kec. Pringkuku, Pacitan, Jawa Timur. Lokasinya searah dengan Pantai Klayar. Cuman kalo main ke Sungai Maron, bonusnya bisa ke Pantai Ngiroboyo. Mantap kan!

Waktu main ke Sungai Maron, aku berangkat dari Madiun. Perjalanan sekitar 3 jam menggunakan motor. Perjalanan menuju ke sana juga cukup menyenangkan, dikasih pemandangan indah perbuktian dan sawah. Baliknya kan udah malem, langsung disambut billion stars, dong.

Tiket Masuk dan Parkiran di Wisata Sungai Maron

Banyak banget yang nanya di-vlog-ku, ada parkirannya atau nggak. Jalur menuju Sungai Maron ini termasuk kecil jalan ber-aspalnya. Bahkan mungkin mobil atau mini bus masih bisa sih. Tapi lebih enak naik motor. Hahaha. Untuk tiket masuknya lebih ke bayar parkir motor/ mobil aja.

Gimana Serunya Susur Sungai Maron Pacitan?

Mari kita sewa perahu untuk jalan-jalan menyusuri sungai dan berlabuh di Pantai Ngiroboyo. Untuk sewa perahunya seharga Rp 100.000 sudah termasuk pelampung. Untungnya waktu itu dapet pengemudi perahu yang asik, jadi bisa request mau ke sini dan foto-foto dulu di spot-spot keren. Hehehe.

Wisata Sungai Maron ini adalah kegiatan wisatawan untuk menyusuri Sungai Maron dan menikmati panorama alam yang jarang kita temui. Sungai yang jernih berwarna hijau kebiruan, lalu kanan kiri pohon kepala lebar dan sesekali diiringi suara burung.

Seperti apa suasananya? Kamu wajib nonton vlog aku di sini ya

Ternyata Sungai Maron ini punya julukan keren lho, “Green Canyon-nya Pacitan” atau “The Indonesia’s Amazon”. Kalo main ke sini, wajib banget buat sewa perahu dan menikmati sunyinya sepanjang sungai Maron.

Butuh waktu sekitar 45 menit untuk menyusuri Sungai Maron. Biar lebih greget ada spot-spot tertentu aku minta abang-nya untuk mematikan mesin perahu dan mendayung.

Panjang jalur perjalanan dari dermaga menuju Pantai Ngiroboyo sekitar 4,5 kilometer. Sesampainya ke Pantai Ngiroboyo, perahu pun menepi. Biaya retribusi untuk parkir perahu hanya Rp 5.000 dan kamu bisa meng-explore pantai itu. Mulai dari berenang, atau menikmati debur ombak, hingga naik ke atas tebing (cuman waktu itu aku nggak naik ke tebing karena udah keburu mau sore dan mengejar waktu pulang).

Menariknya lagi di sini juga pertemuan dari air tawar sungai dengan air laut. Nah pertemuannya di sebelah sini.

Pulangnya Mampir Main Ayunan, Icon-nya Sungai Maron

Trus gimana cara naik ayunanya? Temukan jawabannya di vlog-ku yaa. Jadi kalo mampir Sungai Maron Pacitan wajib nih foto di sini 😀

Ayo, jadwalkan liburanmu buat mampir ke Pacitan ya! Karena banyak banget hal yang bisa kamu explore di Sungai Maron.

Salam Ceria,

Nuansa Artsy di Lorong Homestay Yogyakarta

Jogja, selain terkenal dengan wisata alam, juga keseniannya yang begitu kental. Tak hanya wisata budaya, bahkan penginapan yang wajib kamu cobain adalah Lorong Homestay. Se-artsy apa homestay-nya?

Buat kalian yang suka hal-hal tentang art, Lorong Homestay bisa jadi pilihan tepat untuk menginap. Biar nggak penasaran seperti apa penampakannya, kamu bisa nonton pengalamanku menginap di Lorong Homestay dan klik video di bawah ini ya.

Gimana jadi makin penasaran kah? Iya, dong!

Lokasi Lorong Homestay Jogja

Lorong Homestay itu letaknya di Jl. Nitiprayan, Kec. Kasihan, Bantul Yogyakarta. Lokasinya juga nggak jauh dari pusat kota atau Stasiun Tugu. Kamu juga bisa pesan ojek online untuk menuju lokasi penginapannya.

Kalo dari depan belum kelihatan bangunan artsy-nya, karena di bagian depan diisi oleh coffee shop. Selain itu juga ada Art Gallery-nya (kalo kamu beruntung bisa melihat pameran seninya lho).

Omah Ngarep lan Omah Mburi

Konsep Lorong homestay ini juga menarik. Ketika kita menapaki jalan setapak, berasa banget seperti lagi main ke rumah nenek. Penginapan ini terdiri dari dua bangunan utama, yaitu Omah Ngarep yang terdiri dari 2 kamar. Lalu Omah Mburi terdiri dari 4 kamar. Tiap kamar juga punya interior yang berbeda-beda dengan penamaan tokoh Pewayangan Jawa.

Fasilitas Lorong Homestay

Harga yang ditawarkan untuk menginap per malam adalah Rp 350.000. Ini tidak termasuk breakfast ya. Tapi di sini disediakan dapur bersama (ada kompor, kulkas dan alat masak). Jadi kamu bisa bawa bahan masakan dan masak sendiri, tapi kalo males, bisa bawa mie instan deh. Hehehe.

Selain itu juga ada ruang tamu untuk ngobrol-ngobrol. Kebanyakan yang nginep di sini itu bule-bule atau pertukaran pelajar atau seniman dari luar kota bahkan luar negri. Waktu nginep di sini bahkan ada mahasiswa BIPA yang ngekos di sini dong. Berapa tuh kalo per bulan? Hehehe.

Review Menginap di Kamar Petruk

Yup, aku bakal cerita keseruanku nginep di Kamar Petruk. Dan kebetulan memang yang tersisa cuman kamar ini, dan kebetulan juga kamar ini view-nya bagus dan banyak sudut yang bisa dijadikan mencari ide-ide brilian.

Kamar Petruk ini ada di Omah Mburi dan di lantai 2. Ketika aku menaiki tangga, letaknya ada di sisi kiri. Penampakannya benar-benar klasik banget! Mulai dari pintu kayu dengan tembok batu bata. Lalu perpaduan antara jendela kaca dan jendela tua jaman dulu yang dimodifikasi begitu apik.

Ketika membuka pintu, langsung terpampang nyata kasur yang nyaman dengan seprei perpaduan kain polos dan motif lurik coklat. Ulalala, benar-benar mengingatkan rumah nenek banget. Selain itu juga motif gordennya simple tapi kesan jadulnya berasa banget.

Interior kamarnya juga sederhana. Ada kasur, meja dan kursi. Oia, di sini nggak pakai AC ya, tapi kipas angin. Tempatnya dingin kalo malem. Bahkan kipas anginnya juga udah dingin kalo dinyalain.

Kamar mandi-nya udah modern kok, jadi tenang aja. Nggak perlu nimba air di sumur. Hehehe. Perpaduan antara kamar mandi modern dengan ornamen klasik yang menyatu. Di sini juga ada air panas-nya lho. Jadi nggak perlu khawatir kedinginan kalo mandi pagi.

Ini adalah spot favoritku di sini. Ada balkon dengan meja kecil dan kursi rotan (iya, kursi ingin mengingatkanku kursi favoritku kalo lagi main ke rumah nenek). Bener-bener nostalgia nginep di sini.

Pagi-pagi buka jendela kamar, langsung bisa ngelihat kebun dan sawah, lalu duduk di kursi ini sambil menyeduh mie instan sambil membaca buku. Nikmatnya!

Spot Instagramable di Lorong Homestay

Anak millenial mah pasti pada paham, foto adalah segalanya. Hahaha! Apalagi sebagai content creator, foto itu menambah nilai jual tulisanmu.

Dimana kamu bisa foto asik?

Yup! Pertama ada di depan pintu klasik tiap kamar. Karena beda-beda warnanya. Trus yang kedua foto di koridor kamar dengan nuansa nature, apalagi kemarin bunga-bunganya lagi mekar. Ulalalala.

Nah, buat kalian yang pengen ‘me time‘ atau solo travelling ke Jogja, bisa cobain nginep di Lorong Homestay lho. Nggak terlalu bising di sini, dan kamu bakal menikmati nuansa alam dan pedesaan di sini.

Info lebih lanjut :

Lorong Homestay Yogyakarta
Jl. Nitiprayan RT 1, Kasihan, Bantul
Email : loronghomestay@gmail.com
RSVP : +62 813 2923 9869

Salam Ceria,

Romantisme Senja di Pantai Gesing Gunung Kidul

Pantai tak hanya indah di pagi hari, tetapi ketika senja ternyata romantis juga. Pantai itu adalah Pantai Gesing, Gunung Kidul, Yogyakarta. Pantai dengan sejuta pesona keindahan yang tak pernah bosan untuk dikunjungi. Seperti apa pantainya?

Ingin menikmati sesuatu yang baru, ku putuskan untuk ngabuburit di pantai. Iya, aku mah anaknya anti-mainstream, ngabuburit bukannya jalan-jalan ke Malioboro malah ke Pantai Gesing.

Kenapa pilihannya Pantai Gesing? Iya, aku ke sini bahkan udah hampir 4x dan nggak pernah bosan. Pertama kali ketika senja, tapi saat itu suasananya nggak terlalu menyenangkan. Selanjutnya ku putuskan untuk siang hari dan wow! indah banget. Tapi bukan Beta namanya, kalo nggak penasaran dengan efek senja pantai.

Nah, akhirnya ngabuburit juga ke Pantai Gesing. Serunya kalo ke pantai pas puasa itu adalah SEPI BANGET! serasa kayak private beach. Lalu lokasi persinya dimana nih Pantai? Pantai Gesing letaknya di Desa Girikarto, Kec. Panggang, Gunung Kidul, Yogyakarta. Selain itu kita bisa lewat jalur Parangtritis atau Imogiri. Tinggal pilih aja, semuanya menarik jalannya, iya tetep naik turun melewati perbukitan. Ceileh.

Rute Pantai Gesing ini nggak sendirian, kamu bisa juga ke pantai sekitarnya seperti Pantai Woh Kudu dan Pantai Kesirat (Dua pantai favoritku karena lokasinya dekat dengan kota Jogja dan pasir putih. Hohoho). Sebelum ke Pantai Gesing, kita juga dimanjakan wisata lain seperti Teras Kaca.

Oh iya, karena jalannya sempit, sebaiknya naik motor biar bisa lincah. Tapi mobil bisa juga sih cuman ya harus lihai ya, melewati jalan meliuk-liuk menuju pantai.

Mari kita mulai penjelajahan kali ini! Karena parkir motornya di atas, aku menuruni aspal dengan jalan kaki menuju pantai. Sesampainya di bawah, terhampr kapal-kapal nelayan yang berlabuh di pinggir pantai. Kebanyakan kapal berwarna biru mencolok mata. Kenapa warna biru? Ada yang tahu? Hehehe.

Sore itu, ombak mulai meninggi tetapi tetap aman untuk bermain di pinggir pantai. Apalagi pasirnya itu lho gemes banget, iya, pasir putih dong. Cuman karena tempat berlabuh kapal, agak sedikit kotor oleh sampah bangkai ikan atau buah kelapa. Kadang ada ranting-ranting juga.

Nggak perlu khawatir, pengunjung bisa bersantai di pinggir pantai atau berenang. Berhubung lagi puasa, aku cuman main aja dari ujung ke ujung. Ala-ala berjalan di stpinggir pantai untuk mengambil stock footage video vlog aku. Hohoho. Trus heboh, ketika ombak datang menghantam kaki.

Senja itu dientik dengan melow, cocok banget kalo ingin menggalau ria. Ternyata, menanti senja di Pantai Gesing, nggak se-menyebalkan kala itu. Kini aku menjejaki lagi tempat ini untuk membuat pengalaman indah.

Ketika kita memberikan energi positif kepada alam semesta, nggak kita sadari, alam pun akan menarik energi dan melepaskan energi positif untuk kita nikmati. Buktinya, saat ini aku menikmati pemandangan yang lebih indah. Seakan-akan alam memberikan pemandangan terbaiknya untuk kunikmati.

Oke, cukup buat ber-melow ria, saatnya untuk nge-vlog! Hahaha. Yang bikin bahagia lainnya adalah karena kondisi pantai yang sepi, aku jadi bebas bisa ngevlog tanpa bocor sana sini. Senangnya \^^/. Oia, sekarang aku pakai Sony RX0 untuk ngevlog, kamera kecil yang nggak makan tempat. Trus nggak takut kena air laut karena kameranya juga tahan air. Jadi cocok buat nemenin aku kalo jalan-jalan meng-explore alam.

Di Pantai Gesing, ada spot batu karang paling pojok. Kalo pagi, ombaknya nggak terlalu tinggi jadi bisa renang-renang tipis di sini. Atau nyari ikan kecil-kecil di sini. Karena ada semacam kolam kecil buat berendam kalo ombaknya nggak tinggi.

Setelah puas jalan-jalan di pinggir pantai. Yuk ikut aku mengexplore bagian atas tebing. Di atas nggak kalah menarik lho! Bahkan ada tempat terbaik, sebuah gazebo yang cocok untuk menikmati sunset bersama pasangan kamu. Ulalalala.

Ada tangga khusus buat menuju ke spot atas. Jadi nggak perlu keluar pantai dan berjalan mengikuti jalanan ber-aspal. Ada spot foto yang menarik perhatianku. Seperti spot kapal kayu atau tulisan “Gesing Beach”. So, kita bisa foto-foto di sini sepuasnya. Tapi jangan lupa buat bayar Rp 5.000 per spot ya. Itung-itung buat maintenance tempat fotonya. Toh kita nggak setiap minggu ke sini 🙂

Setelah puas foto-foto di sini, aku akan melanjutkan ke spot ter-romantis di Pantai Gesing sekalian pesan makan untuk buka puasa. Waktu sudah hampir menujukkan pukul 17.32 WIB. Seperti apa sih spot favoritnya Beta? Iya, sebuah gazebo yang menghadap ke laut dan tebing indah.

Bahkan aku speechless dong, ketika sampai atas, aku dikasih pemandangan yang menakjubkan. First time cuy! Ngelihat bulan sejelas itu dan menampakkan dirinya dibalik tebing dan segera ingin mengudara di malam hari (tapi sayangnya kameraku nggak bisa motret jelas karena nggak ada zoomnya wkwkwkw). Nggak papa, yang penting sudah terekam dimemori otak.

Bayangkan warna langit di foto ini. Ini sebelah kanan warna langitnya orange pink abu kayak gini dan sisi lainnya adalah warna biru abu dengan bulan purnama yang indah. Ke-romantis-an apa yang bisa mengalahkan moment ini? :p

Selanjutnya ku menuju warung makan langganan di bawah untuk mencicipi cumi goreng dan ikan bakar yang nikmat banget rasanya. Dari segi harga juga nggak terlalu mahal. Maknyoos. Kayak gimana wujud makanan lezatnya? Tonton vlog-ku sampai akhir ya di sini

Oia, karena sambil buka puasa, otomatis pulangnya bakal gelap banget di jalan. Agak was-was sih. Cuman kata penjaga setempat, aman kok, dan disarankan untuk lewat jalur Imogiri aja (karena lebih rame melewati rumah penduduk) dibanding jalur Parangtritis. Dan selama perjalanan aku nggak takut sama sekali karena bulan purnama yang bersinar terang menemani langkahku menembus kegelapan.

Pantai Jogja mana lagi ya yang bisa aku kunjungi? Comment ya dikolom komentar rekomendasi kamu 🙂

Salam Ceria,

4 Spot Keren di Pantai Kesirat Gunung Kidul

Pantai Kesirat Gunung Kidul bisa jadi pilihan untuk me-refresh pikiran yang penat. Pemandangan indah seakan membuyarkan semua masalah kehidupan. Seperti apa wisata pantai Jogja?

Yogyakarta selalu dipenuhi kenangan indah yang nggak bisa ditinggalkan. Apalagi wisata alamnya yang menjadi daya tarik kota pelajar ini. Banyak tempat yang bisa kita explorasi, salah satunya Pantai Kesirat, Gunung Kidul.

Seakan-akan alam semesta merestui untuk menikmati pantai yang indah di daerah Gunung Kidul. Pantai dengan pasir putih, laut yang biru dan langit yang cerah. Pagi itu aku melaju dari pusat kota Jogja menuju Pantai Kesirat sekitar 1,5 jam. Akses menuju ke sana juga udah bagus, jalan beraspal mulus dengan rute naik turun gunung.

Pantai ini buka 24 jam, biasanya banyak yang nge-camp di sini karena pantainya nggak terlalu ramai. Bisa buat ‘me time’ atau mencari inspirasi di sini. Lokasi pantai ini di Desa Girikarto, Panggang, Gunung Kidul. Tiket masuknya juga nggak semahal pantai lainnya, sekitar Rp 5.000 per orang dan motor Rp 2.000.

Bedanya dengan pantai lain, Pantai Kesirat ini letaknya di atas tebing, jadi kita hanya bisa menikmati laut dari atas. Nggak bisa main-main ala-ala di pasir gitu. Nah, ini yang bikin daya tarik Pantai Kesirat.

Di sini juga orang-nya ramah-ramah, bahkan ada ibu-ibu yang nyuruh aku foto di bunga hasil berkebunnya. Mungkin karena ngelihat aku seimut bunga-nya kali ya (huahaha Pe-De abis!)

Ada 4 spot keren yang bisa kamu nikmati di Pantai Kesirat. Apa saja? Simak di sini ya!

Foto Ala Titanic di Kapal Kayu

Lokasi ini ada di pintu masuk ketika kamu berjalan menuju Pantai Kesirat. Dia ada di sebelah kiri dan agak menjorok ke bibir tebing. Di awal menjelajah, kamu udah disambut dengan pemandangan indah seperti ini. Nikmat Tuhan mana yang kau dustakan, wahai para pembaca? Hehehe.

Oh ya, aku ke sini sekitar pukul 08.00 pagi karena nggak terlalu terik dan bisa dapat pemandangan yang kece badai. Trus nggak terlalu ramai, karena orang-orang yang kemping udah pada balik.

Pemandangan Negeri Dongeng dengan Barisan Bukit

Nggak perlu jauh-jauh keluar Pulau Jawa buat dapetin pemandangan indah seperti ini. Made in Jogja nih! Beruntung banget aku bisa ke sini di saat perbukitannya sedang ranum warnanya. Padanan warna yang ideal.

Bahagia itu sederhana. Se-sederhana melihat pemandangan hijau dan biru yang bersanding melebur memanjakan indra penglihatan ini. Uwooo, rasanya pengen tinggal di sini barang seminggu (lalu muka dan badan gosong, padahal di sini cuman beberapa jam, langsung gosong hahaha).

Trus kamu juga bisa foto di icon pohon yang biasanya buat foto-foto instagram-mu. Seperti ini

Tempat Pemancingan Favorit Bernama Rock Fishing

Tuh kan, di Pantai Kesirat ini letaknya unik, di atas batu karang dan tebing. Kita hanya bisa menikmati dari atas bukitnya. Nah di seberang aku itu, tempat favorit buat orang-orang mancing. Bahkan pancingan mereka udah canggih lho, macam program Mancing Mania di TV.

Aku pun penasaran dan naik ke bukit itu (walopun jalurnya agak ekstrim ngelewatin semak-semak tinggi) tapi bagus banget pas nyampe atas, bisa melihat awan kinton. Hehehe.

Terakhir, Berteduh di Rumah Joglo Atas Bukit

Kita harus menanjak lagi sampai ke atas untuk bisa mampir ke rumah Joglo ini. Kalo ku lihat, rumah ini dulunya beroperasi, tapi mungkin karena suatu hal (entahlah aku tak tahu) jadi kosong dan nggak terawat. Bisa jadi dulu ini buat tempat jualan.

Biar nggak penasaran kayak apa Pantai Kesirat secara live? Tonton vlog dengan informasi lebih lengkap di sini (jangan lupa di-subscribe ya :p)

Libur lebaran ini pada kemana nih? Share yuk tujuan wisata kalian di kolom komentar 🙂

Salam Ceria,

Eksotisme Tersembunyi Bukit Cumbri Wonogiri

Pesona Bukit Cumbri Wonogiri sudah tak diragukan lagi. Kamu tak perlu berjalan jauh sampai puncak dan viola! pemandangan hamparan bukit hijau bisa seketika kamu nikmati.

Rindu dengan pesona wisata alam yang ada disekitar tempat tinggal, membuat diriku mencari tau tentang keberadaan Bukit Cumbri, Wonogiri. Ternyata lokasinya nggak begitu jauh dari rumahku (Madiun) sekitar 1,5 jam. Gimana pengalaman mendaki Bukit Cumbri dan keseruan apa yang aku temukan di sana?

Sejarah Bukit Cumbri

Kalo bercerita tentang sejarah Bukit Cumbri Wonogiripasti memiliki lebih dari satu versi. Salah satunya adalah konon bukit ini dihuni oleh burung besar yang diberi nama “Cok-Bri” Burung Beri ini sukanya memangsa hewan-hewan ternak dari penduduk desa sekitar. Karena penduduk desa kesal dan mencari cara untuk mengusir burung ini dengan menggunakan tikus-tikus.

Akhirnya Burung Beri ini nggak bisa terbang karena sayapnya digerogoti oleh tikus-tikus dari penduduk desa. Ketika si burung mencoba terbang, ia pun terjatuh dan mati di bukit ini. Sehingga bukit ini dijuluki Bukit Cumbri.

Tiket Masuk Bukit Cumbri

Tiket masuk hanya membayar biaya parkir

Warung persinggahan sebelum mendaki

Sesampainya di Bukit Cumbri, kita akan disambut oleh warung-warung makanan dan camilan. Jadi sebelum menanjak jangan lupa isi asupan gizi dulu ya. Uniknya lagi tiket masuknya hanya membayar parkir motor atau mobil saja. Tiket motor Rp 3.000 dan tiket mobil Rp 5.000.

Fasilitas yang ditawarkan juga cukup lengkap, ada mushola dan toilet. Selain itu ada tempat warung yang menjual makanan berat dan camilan. Tempat parkirnya juga rapi dan teduh.

Jalur Penanjakan Gunung Cumbri

Jalur Penanjakan dari pintu masuk

Pemandangan dari setengah perjalanan ke Bukit Cumbri

Gundukan Bukit menjadi pemandangan pendakian

Ada dua rute penanjakan yang bisa kamu pilih. Pertama rute Purwantoro, Wonogiri, jalurnya nggak menanjak tapi sedikit panjang dan memiliki beberapa camp area buat yang ingin nge-camp sambil menikmati bukit. Kedua rute Sampung, Ponorogo, jalurnya sedikit menanjak, ada pos untuk istirahat, dan pemandangan indah selama perjalanan. Rute kedua ini yang aku pilih.

Selain itu pintu pendakian di sini juga ada 3, yaitu pintu timur di desa Jatisari Wonogiri, pintu tengah di desa Sumber Wonogiri, dan pintu barat di desa Kepyar Ponorogo.

Pesona Gunung Cumbri yang Tak Boleh Terlewatkan

Penampakan Bukit Cumbri yang terkenal di instagram

Chocolate Hills versi di Indonesia

Awan putih dan langit biru menemani perjalananku

Nggak salah nih ketika milih berlibur ke Bukit Cumbri, pesona gunung dengan ketinggian 638 mdpl ini sungguh luar biasa. Pemandangan selama menanjak juga bikin semangat mencapai puncak. Bahkan kita bisa melihat pemandangan “Chocolate Hills” Filipina versi Indonesia di sini.

Karena aku memilih jalur pintu barat desa Kepyar Ponorogo, jalannya menanjak dan cukup menguras tenaga. Kadang kita harus merangkak ke atas melewati bebatuan dan bonus jalan landainya bisa kita hitung, hehehe. Cuman aku suka banget jalur ini karena pemandangannya terpampang jelas nyata apa adanya.

Dua Puncak di Bukit Cumbri, Pilih yang Mana?

Puncak Tertinggi di Bukit Cumbri Wonogiri

Puncak Fenomenal di Instagram

Ketika sudah sampai di atas, kamu akan disuguhkan dua puncak yang sama-sama menantang. Puncak sebelah kiri itu lebih pendek dari puncak yang kanan. Di puncak kiri adalah puncak yang sering diambil sebagai spot foto kece instagram. Pemandangannya “Chocolate Hills”-nya Wonogiri bisa kamu nikmati dari puncak sisi kiri.

Sedangkan puncak yang kanan adalah puncak tertinggi dengan tiang bendera merah putih di atasnya. Hanya saja aku hanya berani di puncak kiri (itu pun udah pake drama nangis-nangis takut ketiup angin). Kalau puncak kanan yang bikin ciut adalah melewati batu tinggi yang sampingnya langsung jurang. Mungkin karena pas ke sana siang hari, jadi batuannya ikut panas membara (alesan aja kamu, Bet, hehehe)

Jadilah Pendaki Bijak yang Selalu Menjaga Lingkungan

Jangan lupa buang lagi sampahmu ya, biar nggak jadi mantan

Menikmati angin gunung yang selalu menyejukkan

Nggak ada yang melarang kita untuk mendaki atau menikmati wisata alam. Tapi hal yang sangat dilarang dan merugikan adalah membuang sampah sembarangan dan vandalisme atau istilah kerennya orang yang coret-coret di batu, plang, atau papan. Nah, kegiatan ini tolong dibuang jauh-jauh ya, guys!

Ayo kita jadi pendaki atau pengunjung wisata yang bijak dan peduli lingkungan. Siapa lagi sih yang peduli sama lingkungan kita kalo bukan kita sendiri? Bayangkan, kita cuman bayar parkir yang nggak sampai 10ribu, trus kita sesuka hati buang sampah sembarangan atau nulis nama kamu dan pacarmu (yang belum tentu jadi belahan jiwamu dunia akhirat itu) di batu, batang pohon, tiang, atau papan informasi.

Apakah kamu tega menambah PR para penduduk desa yang hanya meminta tarif parkir tapi harus melakukan pekerjaan di atas harga yang ditawarkan ke kita? Yuk, kita mulai dari diri sendiri dulu 🙂

 

Salam ceria,