Bekerja Dengan Hati, Hati dengan Bekerja

Kerja. Bekerja. 

Bola kehidupan. Lahir. Sekolah. Lulus. Lalu bekerja. Terpatri. Taken for granted, seperti agama yang diwariskan sejak lahir tanpa kita bertanya dan memilih, kita jalankan dengan ikhlas. Merasa kah? Terdominasi seperti itu, walau ada beberapa yang berpikir bebas, terserah dan hal untuk hidup dan memilih. 

Aku? Jujur setelah lulus aku ingin kerja di rumah (freelancer) dan bikin bisnis sendiri. Gak perlu ke kantor dan berpakaian super rapi. Tiap pagi direpotkan “pakai baju apa? dandan seperti apa?”, belum lagi harus naik public transportation yang fasilitasnya nggak usah ditanya, “ibu kota gitu lho”.

Tapi apa yang dipikirkan orang tua? Habis lulus kerja ya, cari yang PNS atau BUMN yang statusnya tetap dan dapet fasilitas ini itu. Mengamini dalam hati. Apakah mereka tau apa yang ku rasa? Hidup bersama seni dan satra. Menulis. Merekam. Memotret. Musik. Berpikir kreatif, kurang suka dengan rutinitas.

Akhirnya setelah lulus kuliah, melamar ke beberapa perusahaan dan agency. Banyak panggilan dan kebingungan memilih. Memilih juga proses pendewasaan, mengikhlaskan semua pilihan, melakukan terbaik, dan jangan mengeluh bila terjadi hambatan. Ketemulah pekerjaan yang gak jauh dari apa yang aku bayangkan :p Jam kantor fleksibel. Gak diburu-buru waktu, gak harus bangun sebelum fajar (tapi didikan ortu, mengharuskan bangun sebelum fajar buat solat Subuh, olahraga, karena kalo bangun siang sama aja menolak rezeki), mengantri dijalanan, bermacet-macetan, belum lagi bedak luntur, berdiri di kopaja/ metromini/ deborah (ini nama angkutan umum mini bus di Jakarta) berdesak-desakan. Dan yang paling aku suka, gak ada kententuan berbusana, kita bisa pakai jeans, kaos oblong, kemeja, yang penting bebas rapi seperti saat kuliah. Bahkan dulu sempat ketemuan sama orang, nunggu aku pulang kerja. Aku cuma pake kaos, jaket, jeans, tas punggung. “Abis kuliah atau ngantor?” Hahaha.

Aku lebih suka berkecimpung dibalik layar bukan berarti dibalik meja lho :p memikirkan ide-ide kreatif yang brirlian, membuat jadi nyata. Dulu pernah ikutan tes DMI (Fingerprint test) buat ngeliat bakat dan minat dan terbukti sudah otak kanan lebih dominan. Ngomong-ngomong otak kanan lebih dominan berarti cenderung kreatid dan kreatif  beda tipis dengan gila (terinspirasi dari artikel Kompas, kalo kreatif menyebabkan kegilaan, teori dari mana tuh? hahaha…)

Jadi my lovely job adalah kantor yang dipenuhi ide kreatid mulai dari interior yang artistik, unik, dan penuh warna, karyawan yang suka becanda, ketawa, dan bukan muka-muka tegang dan seru. Yeahh,, you know-lah what i mean :p Gak ada ketentuan harus pake celana bahan, blazer, dandan, jadi gak ngerasa tertekan dan beban. Dan tentunya yang menghargai krayawan, ya… sebagai kacung perusahaan (istilah kasarnya), kita punya misi memajukan perusahaan tersebut. Gak munafik juga, kita pasti pengen fasilitas yang sesuai kan? seperti jamsostek, day off/ uang lembur, cuti, medical reimbers, dan tunjangan hati tua.  Nah fasilitas itu harus di-clear-kan sama HRD. Tanyakan lebih detil biar gak makan hati dikemudian hari. 

Karena masih muda, yaelah… baru lulus kuliah, entah kenapa jiwa petualangku masih menggemu. Pengen belajar banyak dari empu-empu master di bidang digital, creative, marketing, writing, photographing, music, dan sebagainya. Masih ada waktu untuk menekuni bidang yang diinginkan dan perlu diasah. Hingga benar-benar mengikuti kata orang tua untuk kerja di perusahaan macam BUMN terkenal dan wow! 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s