Posted in Goresan Sastra Sang Pelangi, Jejak Pelangi

BERJILBAB SAMA DENGAN BERSYUKUR ATAS KEBAHAGIAAN DAN KESEDIHAN

Bagaimana perasaan Anda bisa berkesempatan pulang ke kampung halaman?

Ya iyalah seneng banget gitu lho. Gimana enggak bisa ketemu nyak babe, irit ongkos buat makan dikosan, trus perbaikan gizi (bisa makan enak), trus waktunya malas-malasan di rumah (makan-tidur-nonton tipi), ya paling nggak bantu-bantu ortu jaga rumah, bersih-bersih rumah deh.

Hahaha… ya sekilas jawaban itu mirip dengan kata hatiku 😀 Seneng banget bisa pulang ke rumah (comfort zone). Ya sejak akhir tahun 2010 pulang ke sini (tempat kelahiranku, kota Madiun yang terkenal sambel pecel dan brem-nya itu lho) dan baru saat ini pertengahan Juni 2011 bisa mangkir di sini. Sebenernya baru bisa pulang nanti pas lebaran, karena setelah menyelesaikan semester 6 dengan tetes darah penghabisan (alhamdulilah IP naik :D) libur 3 bulan terlaksana juga, tapi ternyata hanyalah angan-angan belaka, karna 3 bulan itu juga aku harus bekerja di perusahaan swasta Jakarta. Seneng! Ya seneng dong, bisa dapet duit hasil jerih payah sendiri sebelum LULUS KULIAH! Trus hasilnya sebagian ditabung (buat mengerjakan TKA atau Skripsi, syarat buat mendapatkan gelar S.Sos) Amin \^_^/ Dan tambah seneng lagi lolos beasiswa prestasi PPA, wah… bisa meringankan beban ortu banget nih! Semester terakhir dapet beasiswa, duitnya bisa buat bayar semesteran dan bantuin pengerjaan TKA! Orang tua tinggal kasih doa restu buat anak tercintanya ini.

Ya, Allah sungguh Maha Adil! Aku percaya itu. Dia juga menciptakan segala sesuatu dengan balance! Kenapa balance? Di mana ada kesedihan, di situ pula kegembiraan akan muncul, begitu pula sebaliknya. Allah nggak akan menciptakan keadaan di mana kita terpuruk terus menerus, aku yakin pasti ada saatnya keberuntungan muncul mengganti kemalangan itu. Tinggal kitanya sendiri mau bersabar dan mengikhlaskannya.  

Tahun 2011 ini aku banyak sekali mendapatkan banyak pengalaman dan pelajaran hidup J Pertama adalah aku harus menentukan pilihan untuk mengambil 24 SKS agar bisa lulus 3,5 tahun (kenapa sih lulus cepet-cepet? Sebenarnya karena nggak pengen dibilang sok gimana gitu pengen lulus cepet, tapi karna aku melihat ayahku akan pensiun pada pertengahan 2012 dan orang tuaku harus memikirkan adikku yang masih harus kuliah, jadi kalau aku bisa lulus akhir tahun 2011 kenapa tidak? Ya… setidaknya bisa menghemat uang satu semester itu untuk adikku yang kuliah, jadi nggak salah kan kalau aku pengen lulus 3,5 tahun untuk mendapatkan gelar S.Sos). Alhasil aku ambil 24 SKS di mana itu padat sekali (rasanya pengen mampus deh, gimana nggak, dosen meminta lebih pada kita dengan tugas-tugas bagai air bah tapi waktu kita terbatas, hanya 4 bulan kuliah! Jadi selama semester 6 ini tidur selalu di atas jam 1 malam, belum harus bangun pagi kuliah jam 8 pagi, belum lagi membagi waktu untuk kerja kelompok. Gilanya semua mata kuliah hampir berkelompok mengerjakan tugasnya. Dan belum lagi aku harus freelance mencari uang. Alhamdulilah, Allah memberikan kepercayaan untuk bisa membagi waktu 😀 Terima kasih Allah!). Kedua adalah pencerahan dari Allah, hidayah atau bukan, atau Allah telah menyadarkanku sebagai seorang wanita muslim! Alhamdulilah aku memutuskan untuk berjilbab! 

Awalnya nih, dulu banget, nggak pengen berjilbab, mikirnya “Perbaiki kelakuan dulu baru berjilbab” Tapi sekarang pemikiran itu berubah J Jilbab itu wajib bagi kalian yang mengaku wanita muslim, wanita yang mengaku beragama Islam dan itu ada di dalam ayat Al-Quran. Mungkin aku berbeda dengan orang lain yang memutuskan berjilbab, kebanyakan lewat mimpi, tapi aku lewat dua orang temanku yang beragrama Nasrani, waktu itu kita sedang berdiskusi tentang agama dan kematian, serta rasa syukur. Dari situ aku mulai bimbang dan gelisah. Apakah rasa syukurku pada Tuhanku? Mereka bisa, kenapa aku tidak? Beberapa malam nggak bisa tidur, gelisah terus, sehabis solat Magrib aku menemukan jawabannya! Aha! Ya, salah satunya dengan berjilbab itulah rasa syukurmu pada Tuhanmu, kamu telah diberikan berbagai macam dan limpahan rezeki yang tiada tara, doa-doamu selalu dikabulkan oleh Tuhanmu, nikmat mana yang kamu dustai? Berjilbab itu wajib hukumnya, dengan kamu berjilbab, itu tanda kamu bersyukur pada Tuhanmu dan dengan kamu berjilbab kamu juga telah membawa orang tua (Ibu dan Bapak) menuju pintu surga kelak karena mereka memiliki anak solehah sepertimu (ini kata hati nuraniku saat itu, bergidik tentunya!) Saat itu juga aku bertekad bulat! Allahuakbar!

Lalu aku menelepon mama dan papa akan keinginanku berjilbab. Huhuhuhu, mereka sungguh terharu. Dan yang lebih terharu lagi adalah, mamaku mengatakan bahwa beliau sangat berterima kasih karena telah membukakan pintu surganya (hehehehe… soalnya di keluargaku semuanya sudah berjilbab dan tinggal aku yang belum, mama berjilbab, kakak berjilbab, dan adik berjilbab, makanya beliau sangat bahagia. Ayeeee \^_^/) Aku mulai  berencana berbelanja baju lengan panjang, untungnya di lemari juga lumayan baju lengan panjangku, lalu beli jilbab. Tapi, tragedi satu demi satu terjadi 😥 Laptopku jatuh dari meja saat dipinjam oleh seorang teman saat kuliah, layar laptopku rusak parah, retak dan pecah, tapi mesinnya masih menyala. Akhirnya aku harus mengeluarkan uang untuk memperbaiki layar laptopku yang dijatuhkan temenku (dia mintanya patungan buat bayar servicenya 1,2 juta). Dari situ aku nggak bisa berkata apa-apa lagi kayak mimpi. Lucunya pas laptop jatuh aku nggak langsung nangis, cuman bengong “pecah ya?” batinku. Trus minta izin ke dosen mau keluar, pas di luar telepon kakak dan menangislah sejadi-jadinya. Alhamdulilah dia mau minjemin laptopnya selagi laptopku diperbaiki dan pas banget, kakakku kerja di Jakarta, jadi masih ada family di sini J Sedih banget, waktu aku mau minta duit ortu, tapi si papa nggak mau ngasih, “kan itu bukan salahmu, emang kamu jatuhin? Minta ganti baru aja sama temenmu”. Zzzzz… nggak menyelesaikan masalah. Jebret, duit dari mana ya? Ya Allah, aku minta duit dong!!!! Ternyata papaku bisa ngasih duit, karna di rumah lagi banyak pengeluaran, adikku lagi cari kuliahan (wow! Ini butuh biaya yang nggak sedikit!) Tapi aku yakin Allah nggak akan tega sama aku memberikan cobaan diluar kemampuanku. Alhamdulilah, terselesaikan juga, walaupun aku harus mengikhlaskan uang yang sebenernya untuk keperluan berobatku. Ya, mataku sedang sakit dan harus ke dokter. Setelah didiagnosis sama dokter, ternyata harus dioperasi karena ada penyumbatan kelenjar di dalam mata dan terinfeksi oleh bakteri. Jederr (suara petir nih!) Ternyata tragedi itu nggak cukup sampe di sini, shocked dong! Seumur-umur gak pernah dioperasi bo, apalagi mata? Udah parno duluan.

Eits, ternyata Allah masih memberikan hadiah spesial lainnya lho! Hapeku hilang! Ya, hilang, lenyap tak berbekas. Parahnya hapeku hilang bukan dijambret di angkot atau jatuh di miniarta, tapi hilang di dalam kelas yang notabene isinya teman-teman sekelasku. Hape yang aku beli dari hasil tabunganku sendiri, jerih payah mengajar bimbel dan magang di rektorat! Huhuhuhuhu -___- nyesek abis. Gimana ngga hapeku hilang pas aku lagi butuh-butuhnya, hilangnya kog pas banget mau menjelang UAS, yang notabene banyak info-info yang dosen sampaikan padaku yang harus aku sampaikan lagi pada teman-teman sekelas (ya… tiap semester pasti selalu jadi ketua kelas), mana pas itu aku juga lagi ngelamar kerja, gimana kalau seandainya orang kantor itu mau menghubungiku untuk interview? Huhuhuhu >.< malangnya nasibku, saat ke Indosat mau minta simcard baru ternyata habis dan harus nunggu 3 minggu. Aaaarrrgggghhhh…. rasanya mau loncat dari lantai 4! Lebai sih, kenyataannya ya cuman bisa bengong, di bilang stress mungkin lebih dari itu ya, hahaha… abisnya nggak bisa nangis, cuman ketawa-ketawa gak jelas. Nggak boleh nyalahin Allah! Jadi berpikir, apakah ini ujian untuk hamba-Nya yang sedang menaiki tingkat yang lebih tinggi dihadapannya (baca: memutuskan untuk berjilbab)?? Itu yang ada dibenakku, karna aku ingat pesan mamaku, “Dek, saat kamu memutuskan untuk berjilbab, berarti kamu udah naik satu tingkat, tapi makin besar ujian yang diberikan Allah, kalau kamu bisa melaluinya, berarti kamu berhasil”.

Dari situ aku me-mindset bahwa ini semua bukan suatu kesialan atau kemalangan. Ini semata-mata Allah ingin mengujiku, aku selalu diberikan apapun yang aku mau, dan semua benda-benda itu bukan milikku, itu semua adalah titipan dariNya, yang sewaktu-waktu bisa diambil kembali. Itulah prinsipku. Dibalik ujian ini pasti ada hikmah dan hal indah menantiku J Ikhlas itulah jawabannya, senantiasa memanjatkan doa dan mengikhlaskan semuanya. Penyakit juga adalah sarana untuk menghapuskan dosa-dosa kita.

Ujian yang bertubi-tubi datang memberondongku, hampir membuatku drop, sensi, labil, dan hampir marah sama Allah. Tapi untungnya hal itu aku buang jauh-jauh dan tetap berpikir positif. Lalu aku memflashback di balik ini semua ternyata ada nikmat yang tiada tara J Saat pertama berjilbab, sahabat-sahabatku memberikan hadiah untukku, perlengkapan jilbab, baju, manset, bros, dan lain-lain, mereka juga mengajariku cara memakai jilbab (Terima kasih banyak wahai sahabatku, Nea, Fitri, Panda, Tika, dan Mba Anggi. Kalian adalah wanita-wanita muslim yang hebat!), alhamdulilah aku keterima kerja (seperti orang kantoran, walaupun belum lulus kuliah), nilai-nilai dan IP/IPK semester 6 naik dan bagus, mendapatkan beasiswa prestasi PPA, mendapatkan hadiah ulang tahun smartphone (walaupun ultah masih lama, makasih sayang untuk hadiahnya, kamu tau saat aku memang benar-benar membutuhkan hape untuk kerjaanku :D), kesempatan pulang ke Madiun untuk bertemu keluargaku tercinta dan operasi mata berhasil dan lancar (huaaa… lancar sih, tapi biusnya nggak mempan, aku bisa merasakan sakit dan perih, saat alat-alat dokter menusuk mataku dan membelah bagian kelopak mata, mungkin yang membuat perih adalah darah bercampur air mata yang kena aluminium alat-alat dokter kali ya. Pokoknya rasanya nggak enak dioperasi, hiks 😥 Sungguh nikmat Tuhan mana yang kau dustai? Allahuakbar… Allahuakbar… Allahuakbar! 

Ya, ini adalah segelintir kisah hidup pelangi. Percayalah Allah itu Maha Adil dan Bijaksana. Bagi kalian yang selalu merasa senang, ingatlah untuk terus bersyukur dan jangan sedih dan marah bila Allah memberikan ujian. Bagi yang sedang dirudung kesedihan, janganlah bersedih berlarut, berdoa dan ikhlas itulah cara yang ampuh, percaya dan yakinlah bahwa sebentar lagi pintu kebahagiaan akan terbuka dari keikhlasan ujian yang diberikan Allah J Semoga cerita pelangi bisa memberikan inspirasi buat kalian dan pembelajaran bagi kita semua. Tetap semangat dan optimis menjalani hidup ya! Karna hidup hanya sekali! Keep struggle! Nantikan postingan pelangi berikutnya.

Author:

I enjoy writing, capturing pictures, learning new things and online media. I am a person who always want to increase my knowledge by continue learning, being creative and thinking out of the box, a hard-worker, responsible, full of spirit, cheerful, discipline and committed. Specialties Writing, Blogging, Photography, Online Journalits, Creative Concept, Research, Social Media Planning and Contents, Entrepreunership, Web editorial, Web Content

5 thoughts on “BERJILBAB SAMA DENGAN BERSYUKUR ATAS KEBAHAGIAAN DAN KESEDIHAN

  1. Bersabar, dan terus bersabar. 🙂
    Nikmatilah pulang kampung ke Madiun selagi bisa. 😀
    Dan, saya turut senang dengan keputusan Beta menggunakan jilbab. 😳

  2. Alhamdulillah sudah berjilbab dari hati. Karena rindu padaNYA, perhiasan seorang perempuan muslimah adl akhlaknya yang solehah, Smg senantiasa istiqomah, dan menjalani waktu penuh sabar…
    Salam kenal…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s