Wajah Anak Indonesia Vs BHP

Pendidikan Indonesia…mau dibawa kemanakah arahnya?? Isu tentang BHP meruah tajam setelah disahkannya UU BHP. Banyak pihaknya kontra, tapi ada juga yang pro terhadap BHP. Simak yuk, hasil wawancara aku dengan anak UI dari berbagai jurusan. Check it out^^…


Ayu Sukrina, FT UI- Teknik Industri 2008, ” BHP adalah badan hukum pendidikan, dimana lembaga pendidikan secara mandiri mengelola keuangan tanpa campur tangan pemerintah, walaupun lembaga pendidikan bukan untuk finansial, karena dana-dana yang diperoleh biasanya dari para alumni. BHP itu ada sisi positifnya, yaitu perguruan tinggi negeri (PTN) lebih kratif untuk emncari dana dan tidak tergantung pada pemerintah 100% (pemerintah tidak terlalu otoriter). Dengan adanya BHP, mahasiswa hanya dikenakan biara 1/3 dari biaya operasional sehingga tidak terlalu membebani mahasiswa. BHP itu sebenarnya tidak terlalu merugikan. Dalam jangka pendek, banyak orang melihat BHP, seperti menswastanisasi PTN. Selain itu BHP juga ada subsidi silang, dimana mahasiswa yang kurang mampu mendapat keringan BOP berkeadilan seperti yang dilaksanakan oleh UI. UI juga dapat lebih menggiatkan infrastruktur dengan mengelola dana secara mandiri. Walaupun nantinya ada sisa hasil usaha dari BHP, uang itu akan dikembalikan untuk membiayai fasilitas pendidikan.

Sebenarnya BHP itu merupakan otonomi PTN, agar tidak selalu menjadi bayang-bayang pemerintah dan BHP tidak boleh mencari untung, jika melanggar akan dikenakan sanksi penjara 5 tahun atau denda 500 juta.  Sehingga kebebasan akademik dijamin, jika tidak ada kebebasan kreativitas itu akan mati. Tetapi yang menjadi permasalahan mahasiswa-mahasiswa yang melakukan aksi penentangan BHP merupakan tindakan dari kurangnya sosialisasi tentang mekanisme dari pihak rektorat maupun pejabat-pejabat yang mengesahkan BHP kepada mahasiswa maupun masyarakat, Dalam hal ini terjadi miscommunication antara mahasiswa dengan pihak rektorat. Sebenarnya mahasiswa hanya meminta hal yang sepele saja, yaitu adanya kejelasan mengenai transparansi dari input sampai output keuangan, karena uang adalah hal yang sangat sensitif yang dapat menyebabkan masalah besar. ”


Herman Pamuji, FIB UI- Sastra Jawa 2008, ” BHP adalah UU terbaru yang memberikan keleluasaan otonomi di sektor pendidikan. UU BHP itu sangat komplek karena jika ada pasal yang menyimpang atau tidak memenuhi maka pasal-pasal lain akan saling memback-up. Yang menjadi pertanyaan banyak pihak adalah jika pendidikan di Indonesia diubah menjadi badan hukum, apakah nantinya akan mengarah pada privatisasi yang komersial yang mana melepaskan peran pemerintah. Inti dari BHP adalah entitas, yaitu UUD 1934, negara berkewajiban mencerdaskan kehidupan bangsa harus dikontrol akademik dan operasionalnya. Apabila pendanaan dikelola oleh kampus dengan Ad-RT sendiri, maka prosentase terjadi penyelewengan sangat tinggi. Menurut Irwan Paryitno, Komisi X DPR RI,bahwa BHP ini menggabungkan sistem yang ada di Amerika dan daratan Eropa. BHP yang diterapkan di dua negara ini berhasil karena perekonomiannya stabil sedangkan di Indonesia, sistem ekonomi Indonesia masih belum stabil sehingga BHP sebenarnya belum siap untuk diterapkan.

Yang menjadi permasalahannya adalah birokrasi Indonesia yang belum siap dan harus diperbaiki. Dampak positif dari BHP adalah 20% mahasiswa dari 100% adalah maahsiswa yang kurang mampu, dan 2/3 biaya operasional di back-up pemerintah sedangkan dampak negatifnya adalah apakah hal ini bisa terealisasikan?, jika tidak sangat kompleks permasalahannya. Karena adanya BHP adalah salah satu syarat dari World Band, adanya utang  pemerintah kita, sehingga secara tidak langsung kita dijajah perlahan oleh pihak-pihak swasta asing yang ikut andil. ”

***

Orang bebas menentukan pilihannya adapakh dia setuju dengan adanya BHP atau malah menentangnya karena berbagai alasan yang dinilai memang masuk akal. Akankah kita masih mau menerima keberadaan BHP untuk generasi muda kita.

DSCF2122

Dia yang masih balita, belum tau apa-apa belum pernah mengenyam pendidkan, bagaimanakah nasib dia dikemudian hari bila BHP menguasai pendidikan di Indonesia. Masihkah dia bisa tersenyum, bermain-main kesana kemari??

DSCF2606

Akankah anak-anak SD ini berkumpul bersama ataukah mereka harus belajar di alam terbuka karena mahalnya biaya pendidikan??


Tetapi apa yang terjadi saat ini? Keadaan miris melihat anak-anak Indonesia sebagai generasi penerus bangsa yang akan menggantikan orang-orang tua dalam memajukan bangsa harus seperti ini…

DSCF2590

Haruskah mereka menjadi seperti ini?? Sebetulnya mereka tidak ingin dilahirkan sebagai gelandangan, hanya mencari puing-puing yang tak bermanfaat berjalan tanpa arah… Mau dibawa kemana arah bangsa kita? Kalo pemudanya saja kebanyakan menganggur tanpa tujuan hidup.

DSCF2649

Atau harus mereka bekerja seperti itu? Belajar menganiaya diri sendiri demi mendapatkan upah dari para penonton dan membuat penonton tertawa terpingkal-pingkal melihat atraksi mereka. Aku menangis dalam hati, miris melihat ini semua, gambar ini aku ambil ketika berjalan-jalan ke kota tua. Anak- anak itu dipukul pakai pecut, kesakitan, tapi malah penonton tertawa terpingkal-pingkal. Dan yang paling membuat miris, mereka sekecil itu sudah bisa mempertontonkan tindakan asusila, dan lagi-lagi penonton tertawa terbahak-bahak? Inikah moral bangsa kita!!!!!!

DSCF2360

Dan akhirnya anak-anak Indonesia yang seharusnya mendapat pendidikan yang layak haru seperti ini? Seorang anak perempuan bersama adiknya mengemis di lampu lalu lintas, saat matahari teriknya mereka harus mencari uang, meminta kepada setiap pengendara mobil atau motor yang berhenti. Dan lagi-lagi membuat hatiku terkoyak, mereka masih bisa tertawa dan tersenyum disela-sela penderitaan yang dialami. Tragis.

***

Apakah dengan adanya BHP dapat mengubah wajah-wajah mereka dari kesuraman???

2 thoughts on “Wajah Anak Indonesia Vs BHP

  1. lha km ndiri dukung BHP gk….? UI kan udah jadi badan hukum ya…. Untungna rektor di kampusku menolak BHP,,smentara masih badan layanan umum (BLU).

  2. Memang yang menjadi “Dewa” sementara ini adalah penguasa, sedangkan “Maha Dewa”-nya adalah pemilik modal dan para legislator dan intelektual adalah “Anjing Kahyangan.” Di mana penguasa mengulurkan lidahnya, menjilat-jilat lezatnya manisan dewata – oleh Bathara disebut “Duwit” -, sang Maha Dewa sedang “senden tangan loro” (bersandar dengan kedua tangan), “ongkang-ongkang” (berfoya-foya), untuk meligitimasi segala hasrat laknatnya di lemparlah secuil daging busuk, makanan kesukaan anjing kahyangan (legislator), penguasa hukum dan legislasi. Belum rampung sampai di situ, sembari memanfaatkan irisan bangkai (petty corruption), lebih-lebih daging segar juga (state hijacked corruption), anjing-anjing kahyangan yang berkelas (pseudo intellectual) lebih suka “melet-melet’ tunduk pada Maha Dewa. Akibatnya, perekonomian, militer, media dan bahkan budaya serta trend di mainkan sedemikian rupa hingga mencapai kesadaran baru yang tergapai dari ketidaksadaran. Fatal. Meminjam bahasa dalam Cultural Studies, perlakuan membajak kuasa Tuhan melalui budaya ini, merupakan kelakuan yang paling keji dalam realitas kebangsaan.
    Mengenang tuturan Prabu Joyoboyo, “Kodok Ijo Ongkang-Ongkang” (militer menjadi Tuhan tandingan), memang sudah terjadi. Lalu, “Tikus Pithi Anoto Baris” (binatang pengerat menjengkelkan, mulai mengacaukan negara), menarik benang dari renungan Noam Chomsky, lalu saya, “si tolol” mulai bertanya, “ada apa gerangan dengan ‘bancakan’ proyek BHP?”
    Ada banyak pelajaran dari renungan kompleksitas kearifan universal, bahwa kita dituntut untuk segera sadar, terbangun dari tidur panjang kebodohan dan segala manipulasi kebenaran. BHP itu semu belaka, penolak BHP pun juga demikian, bak keindahan tulisan-tulisan Lenin, memberikan seribu harapan kehidupan, seolah-olah legitimasi antroposentrisme dan mengukuhkan sosialisme, namun ternyata praktiknya sama saja, korup! Seandainya ada lelucon dan Antonio Gramsci, maka si bodoh yang miskin itu yah bodoh, tak perlulah mereka hidup. Maka ungkapan yang paling tepat adalah, segala hal yang merampas kebebasan hakiki, sama dengan “membajak kuasa Tuhan,” sangat keji!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s